ABOUT

Kelebihan Surah Al-Kahfi

Salam.Di Hari Jumaat yang Mulia ini dan merupakan penghulu segala hari. marilah sama-sama kita mengamalkan membaca surah Al-Kahfi.pesanan ini turut diajukan kepada diri yang lagi kerdil ini, sebelum ini selalu saja org suruh bace surah ni,hanya aq tahu tentang cerita 7 org pemuda didalm gua Mungkin aq tidak tahu ape yang terkandung di sebalik surah al-kahfi ini.ok hari ni jom kita tengok dan hayati Surah Al-kahfi.




Surah Al Kahfi (سورة الكهف) adalah surat ke-18 dalam Al Qur'an. Surah ini mempunyai 110 ayat dan termasuk dalam golongan surah-surah Makkiyyah. Dinamakan Al-Kahfi (bahasa Arab:Gua) dan Ashhabul Kahfi yang membawa maksud Penghuni-Penghuni Gua. Selain itu, nama ini diambil daripada cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 hingga 26 mengenai beberapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya. Selain daripada cerita tersebut, terdapat pula beberapa buah cerita dalam surah ini mengandungi pengajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia. Terdapat juga beberapa hadis Rasulullah SAW yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Daripada Abi said Al khudri berkata:
"Sesiapa yang membaca surah Al Kahfi pada hari Jumaat,maka dihamparkan (disinarkan) untuknya daripada cahaya antara dia dan bait Al Tiq."
(HR. Ibnu Katsir)


Hadith :

Daripada al-Barra r.a katanya : “ Di kala seorang lelaki membaca surah al-Kahfi tiba-tiba ia melihat binatang peliharaannya berlari dan ia melihat bagaikan sekumpulan mega atau awan lalu ia datang menemui Rasulullah SAW dan menyebutkan mengenainya kepada Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW bersabda : “ Itu adalah as-Sakinah (ketenangan) yang turun bersama al-Quran atau turun di atas al-Quran.”



Fadhilat daripada surah ini ialah:

*Dijaga dan selamat dari fitnah kejahatan Dajjal.Diriwayatkan daripada Abu Dardak bahawa Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Barangsiapa menjaga(menghafal) 10 ayat awal surah al-Kahfi maka dia akan dijaga dari fitnah Dajjal."(HR Riwayat Imam Muslim)

*maksudnya bukan sekadar menghafal tapi beramal ye..

 Hadis Riwayat an-Nasai:

"Barangsiapa yang membaca 10 ayat terakhir dari surah al-Kahfi maka dia akan dijaga dari fitnah Dajjal."(HR Riwayat an-Nasai) 


Dari Abu Said al-Khudri r.a. meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: "Barangsiapa yang membaca surah al-Kahfi (dengan huruf dan pembacaan yang betul) sebagaimana ia diturunkan, maka surah itu akan menjadi cahaya pada hari kiamat daripada tempat tinggalnya sehingga ke Mekah dan barangsiapa membaca sepuluh ayat yang akhir daripadanya, kemudian dajjal keluar, dajjal tidak dapat menguasainya." (HR Mustadrak Hakim)



Kisah Ashabul Kahfi - Bukti ketinggian Ilmu Imam Ali Bin Abithalib r.a


Buddhist caves- Photo UNESCO Sorosh Wali - Oct 2003.JPG
 
         Dalam surat al-Kahfi, Allah SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khidzir as serta kisah Dzulqarnain. Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.
Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.
Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-'Adzim; jilid:3 ; hal.67-71).
Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua) yang ditafsir secara jelas jalan ceritanya.....
Penulis kitab Fadha'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Riwayat tersebut berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi:
إِذْ أَوَى الفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo'a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)" (QS al-Kahfi:10)
Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:
Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: "Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi."
"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan," sahut Khalifah Umar.
"Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?" Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. "Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?"
Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: "Bagi Umar, jika ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!''
Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: "Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!"
Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: "Kalian tunggu sebentar!"
Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: "Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!"
Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: "Mengapa?"
Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: "Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!"
Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: "Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!"
Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!"
"Ya baik!" jawab mereka.
"Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib.
Mereka mulai bertanya: "Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?"
"Induk kunci itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah!"
Para pendeta Yahudi bertanya lagi: "Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?"
Ali bin Abi Thalib menjawab: "Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"
Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: "Orang itu benar juga!" Mereka bertanya lebih lanjut: "Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!"
"Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta," jawab Ali bin Abi Thalib. "Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!"
Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: "Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!"
Ali bin Abi Thalib menjawab: "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: "Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!"
Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: "Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!"
Ali bin Abi Thalib menjawab: "Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular)."
Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan: "Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"
Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda."
"Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan," sahut Imam Ali.
"Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?" Tanya pendeta tadi.
Ali bin Ali Thalib menjawab: "Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu."
Pendeta Yahudi itu menyahut: "Aku sudah banyak mendengar tentang Qur'an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!"
Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: "Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana."
Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!"
Ali bin Abi Thalib menerangkan: "Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala."
Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?"
"Hai saudara Yahudi," kata Imam Ali menerangkan, "mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri."
Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: "Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!"
Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan.
Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.
Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.
Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai "tuhan" dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.
Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah s.w.t.
Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan --seorang cerdas yang bernama Tamlikha-- memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: "Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan."
Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya: "Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?"
"Teman-teman," sahut Tamlikha, "hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur."
Teman-temannya mengejar: "Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?"
"Sudah lama aku memikirkan soal langit," ujar Tamlikha menjelaskan. "Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: 'siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah? Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?' Kemudian kupikirkan juga bumi ini: 'Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?' Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: 'Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius'…"
Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata: "Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!"
"Saudara-saudara," jawab Tamlikha, "baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!"
"Kami setuju dengan pendapatmu," sahut teman-temannya.
Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.
  Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: "Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar."
Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.
Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya: "Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?"
"Aku mempunyai semua yang kalian inginkan," sahut penggembala itu. "Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!"
"Ah…, susahnya orang ini," jawab mereka. "Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?"
"Ya," jawab penggembala itu.
Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata: "Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian."
Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya."
Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata: "Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?"
"Hai saudara Yahudi," kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan, "kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.
Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: "Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t."
Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua."
Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata: "Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?!"
Imam Ali menjelaskan: "Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di sebut juga dengan nama Kheram!"
Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.
Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.
Kepada para pengikutnya ia berkata: "Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!"
Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: "Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu."
Dalam guha tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.
Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: "Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!"
Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: "Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi."
Tamlikha kemudian berkata: "Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!"
Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: "Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah."
Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: "Kusangka aku ini masih tidur!" Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: "Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?"
"Aphesus," sahut penjual roti itu.
"Siapakah nama raja kalian?" tanya Tamlikha lagi. "Abdurrahman," jawab penjual roti.
"Kalau yang kau katakan itu benar," kata Tamlikha, "urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!"
Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.
Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru!"
Imam Ali menerangkan: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!"
Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: "Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!"
"Aku tidak menemukan harta karun," sangkal Tamlikha. "Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!"
Penjual roti itu marah. Lalu berkata: "Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?"
Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: "Bagaimana cerita tentang orang ini?"
"Dia menemukan harta karun," jawab orang-orang yang membawanya.
Kepada Tamlikha, raja berkata: "Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat."
Tamlikha menjawab: "Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!"
Raja bertanya sambil keheran-heranan: "Engkau penduduk kota ini?"
"Ya. Benar," sahut Tamlikha.
"Adakah orang yang kau kenal?" tanya raja lagi.
"Ya, ada," jawab Tamlikha.
"Coba sebutkan siapa namanya," perintah raja.
Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: "Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?"
"Ya, tuanku," jawab Tamlikha. "Utuslah seorang menyertai aku!"
Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: "Inilah rumahku!"
Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: "Kalian ada perlu apa?"
Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: "Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!"
Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: "Siapa namamu?"
"Aku Tamlikha anak Filistin!"
Orang tua itu lalu berkata: "Coba ulangi lagi!"
Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: "Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka." Kemudian diteruskannya dengan suara haru: "Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!"
Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: "Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?"
Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.
"Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua," demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya.
Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: "Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!"
Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: "Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!"
Tamlikha menukas: "Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?"
"Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja," jawab mereka.
"Tidak!" sangkal Tamlikha. "Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!"
Teman-teman Tamlikha menyahut: "Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?"
"Lantas apa yang kalian inginkan?" Tamlikha balik bertanya.
"Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga," jawab mereka.
  Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: "Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!"
Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.
Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu."
Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu."
Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman:
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَانًا رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا 
Dan begitulah Kami menyerempakkan mereka, supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah adalah benar, dan bahawa Saat itu tidak ada keraguan padanya. Apabila mereka berbalahan antara mereka dalam urusan mereka, maka mereka berkata, "Binalah di atas mereka satu bangunan; Pemelihara mereka sangat mengetahui mengenai mereka." Berkata orang-orang yang menguasai atas urusan mereka, "Kami akan membina di atas mereka sebuah masjid."
Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: "Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?"
Pendeta Yahudi itu menjawab: "Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan ummat ini!"
Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha 'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul Allah s.a.w.
from http://newyorkermen.multiply.com


Kenapa tak mahu masuk sekali ?

Seorang lelaki muda bangun di awal pagi untuk solat subuh di masjid. Dia berpakaian, berwudu' dan berjalan menuju masjid. Di tengah jalan lelaki itu jatuh dan pakaiannya kotor. Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang ke rumah. Di rumah, dia berganti baju, berwudu', dan, berjalan menuju masjid.

Dalam perjalanan ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yg sama. Dia sekali lagi bangkit, membersihkan dirinya dan kembali ke rumah. Di rumah, dia sekali lagi berganti baju, berwudu' dan berjalan lagi menuju masjid.

Di tengah jalan menuju masjid, dia bertemu seorang lelaki yg memegang lampu. Dia menyapa lalu lelaki itu menjawab, "Saya melihat kamu jatuh 2 kali di perjalanan menuju masjid, jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan kamu." Lelaki muda mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan ke masjid.

Saat sampai di masjid, lelaki muda itu mengajak teman barunya yang membawa lampu untuk masuk bersolat subuh bersamanya. Lelaki tadi menolak. Berkali-kali diajak tetapi jawapannya sama.

Lelaki muda bertanya, kenapa menolak untuk masuk bersolat. Lelaki pembawa lampu menjawab: "Aku adalah Syaitan!"

Lelaki muda itu sungguh terkejut..

Syaitan menjelaskan, ''Saya melihat kamu berjalan ke masjid, dan sayalah yang membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah, membersihkan badan dan kembali ke masjid, Allah mengampunkan semua dosamu. Saya membuatmu jatuh kedua kalinya, dan itupun tidak membuatmu merubah fikiran tetapi tetap kembali ke masjid.

Kerana itu, Allah mengampunkan dosa seluruh keluargamu. Saya bimbang jika saya membuatmu jatuh ketiga kalinya, mungkin Allah akan mengampunkan dosa seluruh penduduk desamu, jadi saya harus memastikan bahawa kamu sampai di masjid dengan selamat."

p/s: syaitan akan berusaha sedaya mampu untuk mnyempangkan kita ke jalan yang serong bahkan berusaha untuk orang lain tidak sama mendapat pahala.So lebih baik kita mengetahui musuh kita yang macam mana. 

Penghulu Istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ 

Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau 

Nukilan Hati

salam....

Bersyukur ke hadrat Ilahi Allah Ynag Maha Esa masih lagi megurniakn daku nikmat Iman dan Islam.Tertanya kenapa aku tetiba hendak mencoretkan sesuatu, dan tajuk pu nukilan hati. mungkin ada sesuatu yang tersimpul dalam hati ini, mungkin juga bayak dosa yang telah aqq lakukan secara sengaja tanpa aq sedari. Ya Allah aq mohon agar diberikan ketenagan hati ,di permudahkan segala urusan serta aq mohon agar aq istiqamah dalam agama mu Ya Allah , Yang Maha Penyayang Lagi Maha Penyayangi....

mungkin aq perlu bersendirian dan bersama teman-teman yang baik dari ku,

 Sendirian lebih baik drpd mengambil teman duduk dgn org jahat, & teman duduk org baik adalah lebih baik drpd sendirian. (Kata² Hukama').

Dunia ini hanya sementara ,kadang- kadang kita terlalu leka dengan keasyikan dunia hingga terlupa dimana akhirat adalah kehidupan kita yang hakiki

Jika hati tercemar dgn keburukan dunia, akibatnya terhalanglah ukhuwah yg ikhlas, lantaran hati yg tandus & malas memikirkan kebenaran. Akhirnya hilang segala nikmat yg Allah SWT berikan, tiada rasa lazat keimanan & yg tinggal hanyalah tekanan. Insaflah wahai saudaraku, jika kita terlanjur jalan, usah malu mohon keampunan, malah bersegeralah untuk dibimbing kembali kepangkal jalan. Semoga Allah SWT beri keampunan & kerahmatan. (Kata² Hukama')

sesungguhnya solat ku, ibadah ku, hidup ku dan mati ku hanya untukmu Ya Allah....

2 Sebab Wanita Masuk Neraka

Sebagai peringatan untuk para wanita dipaparkan suatu peristiwa di suatu Eid, di mana seorang wakil telah dilantik dari kaum wanita untuk bertemu dengan Rasulullah SAW untuk meminta baginda SAW memberi ucapan khusus untuk kaum wanita. Baginda bersetuju dan menyuruh mereka berkumpul di Baabun Nisaa'. Setelah kaum wanita berkumpul, Bilal pergi memanggil Rasulullah SAW. Baginda pun pergi ke sana , dan memberi salam dan mberi tazkirah seperti berikut:

"Assalamu'alaikum, wahai kumpulan/kaum wanita.

Wahai kaum wanita, aku lihat kamu ini lebih banyak di neraka".

Seorang wanita lalu bangun bertanya, "Apakah yang menyebabkan yang demikian? Adakah sebab kami ini kufur?' Rasulullah SAW menjawab, "Tidak. 

Bukan begitu. Tetapi ada 2 tabiat kamu yang tidak elok yang boleh menjerumuskan kamu ke dalam neraka:

1. Kamu banyak mengutuk/menyumpah
2. Kamu kufurkan kebaikan suami."

Kemudian baginda SAW mengingatkan supaya :

1. Banyak beristighfar
2. Banyak bersedekah.

Keterangan:
Yang dimaksudkan dengan mengutuk/menyumpah ialah seperti contoh di bawah:

Contoh 1

Katakan kita lama menunggu bas. Tetapi bas masih tak kunjung tiba, akibat geram dan marah kita mungkin berkata, "Driver bas ni dah mampus agaknya." Perkataan mampus itu termasuk dalam erti kata menyumpah. Lisan wanita memang terlalu cepat menyumpah. Kadang-kadang pakaian, perkakas rumah, hatta suami pun kena sumpah.

Contoh 2

Sedang memasak gas habis. Kita mungkin berkata "****** punya gas. Masa ni jugak nak habis."
Yang dimaksudkan kufur di sini bukan kufur I'tiqad tetapi bererti tidak mengiktiraf Kebaikan di sini bermaksud tanggungjawab yang telah ditunaikan oleh suami.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah pernah ditanya oleh seorang suami yang kurang faham apa yang dimaksudkan dengan 'kufurkan kebaikan suami'. Rasulullah SAW berkata,"Tidakkah pernah engkau jumpa, seorang isteri, jika seumur hidup engkau, engkau berbuat baik kepadanya, tetapi di suatu ketika, disebabkan dia tidak mendapat sesuatu yang dia kehendaki, maka dia akan berkata,"Awak ini, saya tak nampak satu pun kebaikan awak"
(Terjemahan langsung dari Arab).

[Dalam masyarakat kita kata-kata di atas mungkin boleh dikaitkan dengan perkataan seperti berikut:

"Selama hidup dengan awak, apa yang saya dapat?".][Tak guna sesen pun']

Rasulullah SAW sambung lagi,'Mana-mana isteri yang berkata, "Awak ini, saya tak nampak satu pun kebaikan awak", maka akan gugur pahala-pahala amalannya.' Saranan Rasulullah SAW yang seterusnya ialah menyuruh kaum wanita banyak beristighfar dan bersedekah, kerana ia dapat menyelamatkan kita dari 2 perkara yang boleh menjerumuskan kita ke dalam api neraka seperti yang disebutkan tadi..

Fadhilat beristighfar:

a. Sabda Rasulullah SAW: 

"Siapa yang melazimkan amalan istighfar 70 X sehari, dia tidak akan ditulis sebagai orang yang lupa (nyanyuk).."

Sebelum nyanyuk di hari tua, amalkan sejak muda-muda lagi. Rasulullah SAW menganjurkan kita beristighfar 70 atau 100 kali sehari. Baginda sendiri melakukannya lebih dari 100 X sehari. Adalah diingatkan untuk mencapai target ini, eloklah kita menjadualkan amalan zikir ini dalam amalan-amalan harian kita.

b .Sabda Rasulullah SAW: 

"Siapa yang melazimkan amalan istighfar, akan dikeluarkan Allah dari sifat ham dan hazan. Sifat ham bererti gelisah yang tidak menentu yang sering melanda kaum wanita. Sifat hazan bererti berdukacita"

c. Istighfar juga memurahkan rezeki. Jangan dianggap rezeki itu hanya dalam bentuk wang ringgit atau harta benda. Tetapi ia juga termasuk kesihatan, umur, kasih sayang dan anak-anak. Sedekah tidak semestinya dalam bentuk wang ringgit. Sedekah juga termasuk:

1. Tuturkata/percakapa n yang baik. Yang paling utama ialah terhadap keluarga sendiri. Ertinya tidak menyakitkan hati. Inilah rahsianya bagaimana hendak menambat hati suami. Diriwayatkan, Saidatina Khadijah ra, isteri Rasulullah SAW yang pertama, tidak pernah menyinggung hati Rasulullah walau sedikit pun. Sepanjang hayat baginda SAW, hati baginda
dipenuhi dengan Khadijah, sehingga sering menyebut nama beliau. Kadangkala hingga menimbulkan perasaan cemburu dikalangan isteri-isteri baginda.

Diriwayatkan juga, Jibril as setiap kali selepas memberi wahyu kepada Rasulullah sebelum
meminta diri, selalu mengirim salam kepada Khadijah. Suatu hari Rasulullah SAW telah bertanya beliau, dan jawab Jibril, "Khadijahlah satu-satunya perempuan yang Allah SWT berkenan tuturkatanya" .

2. Memberi salam.

3. Memaniskan wajah.

Juga terutamanya kepada ahli keluarga. Rasulullah SAW pernah bersabda,
"Kamu senyum sahaja pun sudah menjadi sedekah." Terdapat juga suatu syair

Arab yang berbunyi :

"Nak buat baik, sangatlah mudah, Maniskan wajah, lembutkan lidah." Maka setelah diberi peringatan oleh Rasulullah SAW marilah kita bertafakkur dan bermuhasabah diri-diri kita. Sekiranya terdapat sifat-sifat buruk yang boleh menjerumuskan kita ke dalam api neraka itu,
maka eloklah kita mengubah sikap kita dari sekarang..

"SAMPAIKANLAH WALAU SEPOTONG AYAT -Sabda Rasulullah SAW"

Sumber: Yang Berbahagia Ustaz Azhar Idrus.


Wahai kaum-kaum Wanita yang dihormati, termasuk diri ku ini, di harap agar dapt mengambil iktibar.

Doa-doa dari Al-Quran

1- (رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ) )البقرة/201(


“Wahai Tuhan kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah Kami dari azab neraka”. (al-Baqarah:201)

2- (رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ) )البقرة/250(


“Wahai Tuhan kami! Limpahkanlah sabar kepada kami, dan teguhkanlah tapak pendirian Kami serta menangkanlah Kami terhadap kaum Yang kafir” (al-Baqarah:250)

3- (رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ) )البقرة/286(


“Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau mengirakan Kami salah jika Kami lupa atau Kami tersalah. Wahai Tuhan Kami ! janganlah Engkau bebankan kepada Kami bebanan Yang berat sebagaimana Yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang Yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa Yang Kami tidak terdaya memikulnya. dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah Kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum Yang kafir”. (al-Baqarah:286)

4- (رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ) )آل عمران/8(


“Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau memesongkan hati Kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada Kami limpah rahmat dari sisiMu; Sesungguhnya Engkau jualah Tuhan Yang melimpah-limpah pemberianNya. (Ali Imran:8)

5- (رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ) )آل عمران/16(


“Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Kami telah beriman, oleh itu, ampunkanlah dosa-dosa Kami dan peliharalah Kami dari azab neraka”; (Ali Imran:16)

6- (رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء) )آل عمران/38(


” Wahai Tuhanku! kurniakanlah kepadaKu dari sisiMu zuriat keturunan Yang baik; Sesungguhnya Engkau sentiasa mendengar (menerima) doa permohonan”. (Ali Imran:38)

7- (رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلَتْ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَِ) )آل عمران/53(


“Wahai Tuhan kami! Kami telah beriman kepada apa Yang telah Engkau turunkan, dan Kami mengikut RasulMu; oleh itu suratkanlah Kami beserta orang-orang Yang menjadi saksi (yang mengakui keesaanMu dan kebenaran RasulMu)”. (Ali Imran:53)

8- (ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَِ) )آل عمران/147(


“Wahai Tuhan kami! ampunkanlah dosa-dosa Kami dan perbuatan Kami Yang melampau Dalam urusan kami, dan teguhkanlah tapak pendirian Kami (dalam perjuangan); dan tolonglah Kami mencapai kemenangan terhadap kaum Yang kafir.” (Ali Imran:147)

9- (رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ رَبَّنَا إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُواْ بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلاَ تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيعَاد ِ) )آل عمران/191-194(


“Wahai Tuhan kami! tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini Dengan sia-sia, Maha suci engkau, maka peliharalah Kami dari azab neraka. (191)Wahai Tuhan kami! sebenarnya sesiapa Yang Engkau masukkan ke Dalam neraka maka Sesungguhnya Engkau telah menghinakannya, dan orang-orang Yang zalim tidak akan beroleh seorang Penolong pun; (192) Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Kami telah mendengar seorang Penyeru (Rasul) Yang menyeru kepada iman, katanya: ` berimanlah kamu kepada Tuhan kamu ‘, maka Kami pun beriman. Wahai Tuhan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami, dan hapuskanlah daripada Kami kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah Kami bersama orang-orang Yang berbakti; (193) Wahai Tuhan kami! berikanlah kepada Kami pahala Yang telah Engkau janjikan kepada Kami melalui Rasul-rasulMu, dan janganlah Engkau hinakan Kami pada hari kiamat; Sesungguhnya Engkau tidak memungkiri janji”.(194)

10- (رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ) )الأعراف/23(


“Wahai Tuhan kami, Kami telah menganiaya diri Kami sendiri, dan kalau Engkau tidak mengampunkan Kami dan memberi rahmat kepada kami, nescaya menjadilah Kami dari orang-orang Yang rugi”. (al-A’raf:23)

Mudahnya Mengeluh, Sukarnya Bersyukur

Mudahnya Mengeluh, Sukarnya Bersyukur


Begitu mudah sekali melontarkan keluhan. Keluhan demi keluhan keluar dari bibir tanpa disedari. Kita mengeluh atas perkara-perkara yang remeh. Kita mengeluh atas perkara-perkara yang tidak mendatangkan faedah. Kita mengeluh dan asyik mengeluh. Andai dapat ditukar setiap bait keluhan itu kepada wang ringgit, pasti terbasmi kemiskinan di muka bumi. Namun hairan, Kita mengeluh tatkala kita ditimbuni dengan pelbagai kesenangan.

Kita mengeluh kerana makanan kegemaran tidak disediakan, sedangkan perut semakin memboyot kekenyangan. Kita mengeluh kerana kepanasan, sedangkan angin semula jadi disediakan tanpa bayaran. Kita mengeluh atas sekelumit kekurangan, sedangkan kelebihan sebanyak buih dilautan dibiarkan.

Allah s.w.t berfirman “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, nescaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya” (An-Nahl: 18). Di saat kita tenggelam dalam keluhan diri sendiri, pancaindera kita tidak lagi mampu memainkan peranannya untuk melihat, mendengar, merasai dan menghayati pemberian Allah yang tiada henti-hentinya. Lantaran itu, begitu sukar sekali untuk menyebutkan kalimat Alhamdulillah sebagai tanda kesyukuran seorang hamba kepada khaliqnya. Itulah hakikitnya. Memang manusia sentiasa leka dan lupa. Manusia mempunyai keinginan yang tiada batasan. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki..Kecuali orang-orang yang bersyukur.

Pada zaman Sayyidina Umar al-Khattab, ada seorang pemuda yang sering berdoa di sisi Baitullah yang maksudnya: “Ya Allah! Masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit” Doa beliau didengar oleh Sayyidina Umar ketika beliau (Umar) sedang melakukan tawaf di Kaabah. Umar berasa hairan dengan permintaan pemuda tersebut. Selepas selesai melakukan tawaf, Sayyidina Umar memanggil pemuda berkenaan lalu bertanya: “Kenapakah engkau berdoa sedemikian rupa (Ya Allah! masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit), apakah tiada permintaan lain yang boleh engkau mohon kepada Allah?” Pemuda berkenaan menjawab: “Ya Amirul Mukminin! Aku membaca doa berkenaan kerana aku (berasa) takut dengan penjelasan Allah seperti firman-Nya dalam surah al-A’raaf ayat 10 yang bermaksud: “Sesungguhnya Kami (Allah) telah menempatkan kamu sekelian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber/jalan) penghidupan. (Tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur” Aku memohon agar Allah memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, iaitu (lantaran) terlalu sedikit orang yang tahu bersyukur kepada Allah” jelas pemuda berkenaan. Mendengar jawapan itu, Umar al-Khattab menepuk kepalanya sambil berkata kepada dirinya sendiri: “Wahai Umar, alangkah jahilnya engkau, orang ramai lebih alim daripadamu”

SubhanaLlah. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan yang sedikit ini, Amin…

Jadi, sama-samalah kita membina tekad untuk membanteras keluhan dan meningkatkan kesyukuran kerana Dia telah berjanji “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Source: iluvislam

Cactus House Plants, Easy-to-Grow and Sun-Loving

Cactus House Plants, Easy-to-Grow and Sun-Loving

Origin: Southwestern U.S., Mexico and South America

Height: Varies by species

Light: At least 2-3 hours of full sun a day.

Water: Water regularly spring through fall while plant is growing, sparingly in winter. If the plant appears shriveled and wrinkled, it's underwatered. To rehydrate it, water lightly, and then again the following day, and it will recover nicely. Be careful not to drench the soil. Cactus is likely to rot if its roots become soaking wet.

Humidity: Average to dry air.

Temperature: Average room temperatures 65-75°F, 18-24°C. In winter, a cooler place to rest -- 50-60°F/10-16°C at night is ideal.

Soil: Use a potting mix that drains well. You can buy a mix specially made for cacti, or use 2 parts all-purpose potting mix with 1 part sharp sand or perlite. Adding about a 1/2-inch layer of pebbles to the bottom of the container will help drainage and also add weight to the bottom. (Large cacti can become top-heavy).

Fertilizer: Typical cactus house plant fertilizer is 2-7-7. It needs less nitrogen than foliage plants and higher phosphorus and potassium for better flowering and strong roots.

Propagation: Many cacti grow offsets at the base of the parent plant. Cut them away with a sharp knife. Allow the cut surface to dry for a couple days so it doesn't ooze sap and to prevent the new plant from rotting. Place offsets on the surface of moist, sandy potting mixture. Keep new offsets in a warm, bright place, but out of direct sun for the first month. The best season to propagate is late spring or early summer, when plants are beginning their most active period of growth.

Cactus & Strawbery (^_^)

Salam Rejab & selamat pagi di hari selase yg indah ni. Hari ini terangat la special kerana dihadiri oleh insan yang sangat saya tunggu-tunggu selama hampir 3 bulan tidak pulang ke rumah. Insan yang saya maksudkan adalah Umi dan Abah saya selaku kekasih hati ku yang amat aku rindui. Macam duduk jauh je aku ni padahal dalam Malaysyia je pn , itu pn negeri jiran sebelah. The things that i want to highlight today is , i got something from my lovely parents that are cactus and strawbery.Ermm sedap sangat x terhingga, alih bahasa pulak .


                             Strawbery & tomato


                               Cactus

Allhamdulillah dapat juga menikmati Buah Strawbery yang sagat sedap dari Cameron Highland.Walaupun tidak dapat kesana dapat juga la rasa buah tangan dari Cameron.Hajat hati memang nak pergi tapi memandangkan exam lebih penting , terpaksa jugak la menahan hasrat hati untuk ke sana. Tapi kesedihan dapat di atasi apabila ada nya pokok cactus dalam bilik ku. Insyallah akan aku jaga selagi jangka hayat diri ku dan cactus ini dipanjagkan oleh Allah. My father said " jaga pokok cactus ni sampai grad dari UIA ni, tgk sampai mana ia boleh membesar". Wah , itu satu amanah buatku untuk menjaga pokok cactus ini.


Kaktus (diambil dari bahasa Yunani: Kaktos) adalah nama yang diberikan untuk anggota tumbuhan berbunga famili Cactaceae. Kaktus dapat tumbuh pada waktu yang lama tanpa air. Kaktus biasa ditemukan di daerah-daerah yang kering (gurun). Kata jamak untuk kaktus adalah kakti. Kaktus memiliki daun yang berubah bentuk menjadi duri sehingga dapat mengurangi penguapan air lewat daun. Oleh sebab itu, kaktus dapat tumbuh pada waktu yang lama tanpa air. (Wikipedia).
  
cara penjagaan tidak susah mane pun:
1) Jangan siram terlalu bayak air
2) Tidak perlu siram setiap hari
3) Letakkan di kawasan yang mudah mendapatkan sinaran matahari
4) Untuk yang baru beli , macam saya x perlu lagi untuk bertukar kepad pasu yang lain , biarkan selama sebulan dua.

Saya rase itu je , x tau la kalau ade extra info yang saya x ketahui. Ok la tu. Padahal ade exam besok pagi dan lagi saya menulis,huhuhu .Nak sambung makan strawbery and nak sambung study plak.

                                      Syoknye klu dapat makan desert ni..........=)

Bulan Rejab

KELEBIHAN BULAN REJAB


Sabda Nabi s.a.w.: Hendaklah kamu memuliakan bulan Rejab,nescaya Allah muliakan kamu dengan seribu kemuliaan di hari kiamat.

Sabda Nabi s.a.w.:
Bulan Rejab Bulan Allah, Bulan Sya'aban bulanku & bulan Ramadhan bulan umatku.

Kemuliaan Rejab dengan malam ISRAK MIKRAJnya, Sya'aban dengan malam NISFUnya Ramadhan dengan LAILATUL-QADARnya.

Malam awal Rejab mustajab do'anya.(Dalam Kitab Raudhoh Iman Nawawi)

* Puasa sehari pada bulan Rejab mendapat syurga tertinggi (Firdaus).

* Puasa dua hari dilipatgandakan pahalanya.

* Puasa tiga hari pada bulan Rejab dijadikan parit yang panjang, yang menghalangkan dia keneraka (panjangnya setahun perjalanan).

* Puasa empat hari pada bulan Rejab diafiatkan daripada bala dan daripada penyakit yang besar-besar dan daripada fitnah Dajal di hari kiamat.

* Puasa lima hari pada bulan Rejab, aman daripada azab kubur.

* Puasa enam hari pada bulan Rejab, keluar kubur bercahaya muka.

* Puasa tujuh hari pada bulan Rejab, ditutup daripada tujuh pintu neraka.

* Puasa lapan hari pada bulan Rejab, dibuka baginya lapan pintu syurga.

* Puasa sembilan hari pada bulan Rejab keluar dari kuburnya lalu, MENGUCAP DUA KALIMAH SHAHADAH tidak ditolak dia masuk syurga.

* Puasa 10 hari pada bulan Rejab Allah jadikan baginya hamparan perhentian di Titi Sirotolmustaqim pada tiap-tiap satu batu di hari kiamat.

* Puasa 16 belas hari pada bulan Rejab akan dapat melihat wajah Allah di dalam syurga dan orang yang pertama menziarahi Allah di dalam syurga.

* Puasa 19 belas hari pada bulan Rejab, dibina baginya sebuah mahligai di hadapan mahligai Nabi Allah Ibrahim a.s dan Nabi Allah Adam a.s.

* Puasa 20 hari pada bulan Rejab, diampunkan segala dosanya yang telah lalu. Maka mulailah beramal barang yang tinggi daripada umurnya (pembaharuan umur).

Berkata Saidina Ali:

* Puasa Rejab 13 hari seperti puasa tiga ribu tahun.
* Puasa Rejab 14 hari seperti puasa sepuluh ribu tahun.
* Puasa Rejab 15 hari seperti puasa seratus ribu tahun.

Kelebihan bulan Rejab dari segala bulan seperti kelebihan Qur'an atas segala Qalam.

Puasa sehari pada bulan Rejab seperti puasa empat puluh tahun dan diberi minum air dari Syurga.

Puasa 10 hari pada bulan Rejab dijadikan dua sayap, terbang seperti kilat di atas Titi Sirotalmustaqim di hari kiamat.

Puasa sehari pada bulan Rejab seperti mengerjakan ibadat seumurnya.

Puasa pada awal Rejab, pertengahannya dan akhirnya seperti puasa sebulan pahalanya.

Bulan Rejab Syahrullah (Bulan Allah), diampunkan dosa orang-orang yang meminta ampun dan bertaubat kepada Allah. Puasa Bulan Rejab wajib baginya:

* Diampunkan dosanya yang lalu.
* Dipeliharakan Allah umurnya yang tinggal.
* Terlepas dari dahaga di hari kiamat.

Orang yang lemah dari berpuasa pada bulan Rejab hendaklah bersedekah tiap-tiap hari sekurang-kurangnya sebiji roti. Sasiapa bersedekah pada
bulan Rejab seperti sedekah seribu dinar, dituliskan kepadanya tiap sehelai bulu ruma jasadnya seribu kebajikan, diangkat seribu darjat, dihapus seribu
kejahatan.

Tiap sehari puasanya pada bulan Rejab dan sedekahnya pada bulan Rejab seperti ibadat seribu Haji dan Umrah. Dibina mahligai seribu bilik dan seribu bidadari, lebih cantik daripada atahari seribu kali.

Bulan Rejab bulan Allah. Bersedekah pada bulan Rejab dijauhkan Allah daripada api neraka kerana kemuliaan bulan Rejab, Bulan Allah. Allah jadikan di belakang bukit Jabal Qar bumi, yang putih yang penuh dengan
Malaikat dengan panji-panji berhimpun pada tiap malam Rejab meminta ampun oleh mereka kepada Umat Muhammad.

Allah menjawap: Telah aku ampunkan mereka! Barangsiapa meminta ampun (bersitighfar) kepada Allah pagi dan petang 70 kali atau 100 kali, pada bulan
Rejab di haramkan tubuhnya daripada api neraka.

Sesiapa berpuasa sebulan pada bulan Rejab, Allah berseru kepadanya:
"Telah wajib hakmu atasKu, maka mintalah olehmu kepadaKu. Demi ketinggian Ku dankebesaranKu, tidak Aku tolakkan hajatmu. Engkau adalah jiranKu dibawah `arasyKu, engkau kekasihKu daripada segala makhlukKu,
engkau terlebih mulia atasKu. Sukakanlah kamu, tiada dinding antaraKu dan antarakau".(dari kitabRaudatul Ifkar)

Puasa pada 27 bulan Rejab seperti berpuasa enam puluh bulan pahalanya. Jika disertai dengan sedekah seperti puasa seribu tahun, kerana kebesaran hari ISRAK-MIKRAJ.

Siapa melapangkan kekeruhan, kesusahan, kesempitan orang mukmin pada bulan Rejab dikurniakan Allah kepadanya Mahligai yang besar di dalam syurga Firdaus.

Siapa berpuasa tiga hari pada bulan Rejab dan beribadat pada malamnya(berjaga), seperti dia berpuasa tiga ribu tahun.

Diampunkan baginya 70 dosa-dosa besar tiap-tiap hari, ditunaikan 70 hajat ketika keluar nyawanya daripada jasadnya, 70 hajatnya di dalam kuburnya, 70 hajat ketika terbang suhuf (ketika Qur'an dinaik ketika berlalu di Titi Sirotalmustaqim.

Rejab ertinya ta'zim (kebesaran, keagungan, kemuliaan). (Rahmat, pemurah, kebajikan). Kerana kebesaran, keagungan dan kemuliaan bulan Rejab itu
maka Allah limpahkan rahmatNya, kemurahanNya dan terhadap hamba-hambaNya yang beriman dan beramal solih pada bulan Rejab, dengan berpuasa pada siangnya dan beribadat pada malamnya.

Demikianlah peri keistimewaannya keagungan bulan Rejab itu yang dinamakan dengan BULAN ALLAH.

REJAB bulan menabur benih.
SYA'ABAN bulan menyiram tanaman.
RAMADHAN bulan menuai.

REJAB menyucikan badannya.
SYA'ABAN menyucikan hatinya.
RAMADHAN menyucikan rohnya.

REJAB bulan taubat.
SYA'ABAN bulan muhibbah.
RAMADHAN dilimpahi pahala amalan.
All the best to all my friends in IIUM in this final examination. Keep studying and Dont forget to Doa,Usaha N Tawakkal to Allah.Here are some tips that can we follow:

1. Study skills
Where to study
Creating good conditions to study in can help you make the most of the time you spend revising. Here are some suggestions:
  • Find a quiet place to study and make sure you are sitting comfortably
  • Make sure your desk is well lit
  • Keep background noise to a minimum
  • Avoid studying in an area where there will be distractions (like television!)
  • Have everything you need to do your revision to hand before you start
How to study
There is no ‘right way’ to revise, as long as the method you choose enables you to gain a solid grasp of key facts and consolidate your knowledge. Some students are happy to read their classroom notes from start to finish, others prefer to simplify the information as much as possible, turning everything into skeleton notes, diagrams or mnemonics. In practice, most students find that mixing techniques suits the varied nature of the subjects being revised, and provides essential variety when studying.
  • Turn your notes into revision tools;
    • write ideas and facts on to cards to use as ‘prompts’
    • create memory aids such as diagrams or mnemonics (e.g. initial letters to make a word you need to remember or SMART objectives: Specific; Measurable; Achievable; Realistic; Targets). These will help you remember key facts
    • write key facts/notes out and display these around the house where you will see them
    • record yourself reading notes to listen to
  • Study with a friend and test each other’s knowledge, but remember you are meeting to revise rather than to chat!
  • Work through past question papers – and use a watch to time them so that you can practise timing your answers.
  • Choose study and revision guides sensibly. It’s not hard to find help with revision – as well as established published revision guides, there are hundreds of websites offering help and advice. The problem is not how to find such help, but how to judge which is the best source for your needs. Save valuable time and get recommendations from your teachers
  • Remember course notes are also a valuable source of extra help
  • Keep yourself more alert by changing revision methods during a session. For instance, try switching from note taking to memorising; from reading to asking someone to test you
  • Attend any revision classes that your teachers may be running at school and get their advice on revision methods
  • Look after yourself – Sometimes revision can become a competition – who stayed up latest, who worked longest, who’s worrying the most. But the more tired you are the less efficiently you’ll work. You need to rest as well as study, eat well, drink lots of water and make sure you pace yourself. Don’t rush, and equally don’t over-revise by doing too much too soon
2. Revision plan
The top tip for successful revision is to make a plan; otherwise it is easy to waste your precious revision time. We recommend that you start your revision at least six weeks before your exams begin. It is helpful to look at your exam dates and work backwards to the first date you intend to start revising.

  • List all your exam subjects and the amount of time you think you will need for each one. It is unlikely that the amounts will be equal. Many people find it advisable to allocate more time to the subject or topics they find the most difficult
  • Draw up a revision plan for each week
  • Fill in any regular commitments you have first and the dates of your examinations
  • Use Revision Checklists or Syllabuses for each subject as a starting point. Look at what you need to know and try to identify any gaps in your knowledge. (A good way of doing this is to look at the results of past papers or tests you have worked through)
  • Divide your time for each subject into topics based on the units in the revision checklist or syllabus, and make sure you allow enough time for each one
  • Plan your time carefully, assigning more time to subjects and topics you find difficult
  • Revise often; try and do a little every day
  • Plan in time off, including time for activities which can be done out in the fresh air. Take a 5 or 10 minute break every hour and do some stretching exercises, go for a short walk or make a drink
  • You may find it helpful to change from one subject to another at ‘break’ time, for example doing one or two sessions of maths and then changing to Geography, or alternating a favourite subject with a more difficult one. It helps to build in some variety
  • Write up your plan and display it somewhere visible
  • Adjust your timetable if necessary and try to focus on your weakest topics and subjects
  • Don’t panic; think about what you can achieve, not what you can’t. Positive thinking is important!
3. Last-minute revision tips
Although time may be short, you can still make a difference to your grade. Try and prioritise; do what you can.
  • Use your revision tools (prompts, diagrams etc) to check final facts
  • Keep calm and consolidate your existing knowledge rather than trying to learn new topics
  • Don’t stay up all night revising; being overtired will not help you to do your best
4. Dealing with exam nerves
It is natural to feel nervous before an examination. The more prepared you feel, the easier it will be to conquer your fears.
  • Create a revision plan to help you feel in control of the process
  • Plan your work carefully around the topics you need to focus on. Being aware of gaps in your knowledge can create nerves, but having a plan of how you will fill these will make you feel better.
  • Find out what is involved in the exam:
    • where and when it will take place
    • how much time is allowed
    • how many questions you need to answer
  • Think positive
  • Keep the exam in context – even if you do badly, there will be other options open to you
  • Allow yourself some fun-time each day to relax
  • Eat sensibly – your brain cells need energy to function well. Make sure you drink plenty of water to avoid becoming dehydrated. Dehydration makes you tired and reduces concentration
5. Exam tips – sitting the exam
Be prepared; find out what is involved in each of the examinations that you are going to sit. Organise yourself the night before and get plenty of sleep.
  • Check you have the correct equipment with you before you leave the house (pens pencils, ruler, scientific calculator, etc)
  • Do take a watch or clock so that you can time your answers
  • Leave for the exam in plenty of time
  • Look through the paper first and mark difficult questions/initial thoughts
  • Select the questions that will best enable you to demonstrate your knowledge to the examiner
  • Look at the marks available and read the questions carefully, following instructions given in the paper (e.g. to show all workings, word limits etc)
  • Use the information provided on the paper (the answer’s often nearly all there)
  • Pace yourself and allow enough time to answer all the required questions
  • Write as neatly as possible to help the examiner to mark your work. Marking untidy writing is difficult
  • For longer answers, take a few minutes before you begin to produce a structured plan of what you are going to include in each section
  • Allow yourself ten minutes at the end to read through your answers and correct any mistakes
  • Cross out anything you do not want the examiner to read (e.g. an earlier answer to a question)
6. Exam tips – after the exam
It is easy to fall in to the trap of wondering how well you performed and to discuss this with your fellow students. Your time would be better spent looking ahead to your next examination.
  • Don’t panic – you won’t be the only student who is anxious about their answers
  • Don’t compare your answers with those of other students – this can create negative feelings
  • Have some fresh air and food and take time to relax before you start revising
  • Don’t rush to your textbooks to check your answers – there is no point at this stage
  • Focus on the next exam and how you might improve your exam technique
  • Have a quick look at your revision plan. Do you need to adjust it?
  • Think positive

Maths in Al-Quran


Dr. Tariq Al Swaidan discovered some verses in the Holy Quran that mention one thing is equal to another, i.e, the number of words for man and women are equal. Although this makes sense mathematically, the astonishing fact is that the number of times the word man appears in the Quran is 24 and number of times the word woman appears is also 24,therefore not only is this phrase correct in the grammatical sense but also true mathematically: 24=24.

Upon further analysis of various verses, he discovered that this is consistent throughout the whole Quran, where it says one thing is like another. See below for astonishing results:-

The word number of times mentioned in Arabic Quran:

Dunia (one name for life) 115 . Akhirat (one name for the lifeafter) 115
Malaikat (Angels) 88 . Shaytan (Satan) 88
Life 145 . Death 145
Benefit 50 . Corrupt 50
People 50 .Messengers 50
Eblees (king of devils) 11 . Seek refuge from Eblees 11
Museebah (calamity) 75 . Thanks 75
Spending (Sadaqah) 73 . Satisfaction 73
People who are misled 17 . Dead people 17
Muslimeen 41 . Jihad 41
Gold 8 . Easy life 8
Magic 60 . Fitnah (dissuasion, misleading) 60
Zakat ( Taxes Muslims pay to the poor) 32 .
Barakah (Increasing or blessings of wealth) 32
Mind 49 . Noor 49
Tongue 25 . Sermon 25
Desire 8 . Fear 8
Speaking publicly 18 . Publicising 18
Hardship 114 . Patience 114
Muhammed 4 . Sharee*ah (Muhammed's teachings) 4
Man 24 . Women 24

And amazingly enough have a look how many times the following words appear:-

Solat 5; Month 12; Day 365;
Sea 32; Land 13; Sea + land = 32+13= 45%Sea=32/45*100=71.11111111%
Land=13/45*100= 28.88888889=100.00
Modern science has only recently proven that the water covers 71.111% of the earth, while the land covers 28.889%. Is this a coincidence ?

Who taught Prophet Muhammed (PBUH) all this?

Allah, the All Mighty taught him this. As the Quran tells us.

"The Soul is like a glass lamp, and knowledge is light (giving fire), and the wisdom of God is the oil, If it is lit, you are alive,and if it is darkened, you are dead"-- Ibn Sina
  


Kunci Kejayaan

Kunci adalah benda yang digunakan untuk membuka atau menutup sesuatu.Terdapat pelbagai jenis kunci seperti kunci kereta,kunci rumah dan sebagainya. Kunci sangat penting dalam hidup seseorang yang mempunyai kereta, untuk membenarkan kereta brgerak , seseorang hanya memerlukan kunci untuk menghidupkan engin sebelum bergerak. Apakah kunci yang membuka kepada kejayaan ? Jika kita tahu kunci yang satu ini, pasti lebih mudah jalan saya menuju kejayaan. 

Sebagai seorang manusia, keinginan untuk mencapai sesuatu matlamat yang diinginkan adalah perkara biasa. Namun, masih ramai yang gagal untuk menghasilkan tindakan kerana dihantui oleh perasaan takut, tidak yakin dan pelbagai lagi.
Walaupun ramai yang tahu bahawa perasaan seperti ini hanya sekadar mainan di fikiran, namun kebanyakkan mereka telah biarkan perasaan tersebut menguasai diri mereka seterusnya membantutkan proses pertama kejayaan mereka iaitu tindakan.
Justeru itu, saya terpanggil untuk memberikan sedikit nota inspirasi pada para pembaca agar anda semua dapat melakukan tindakan serta merta untuk mencapai matlamat yang diinginkan dalam kehidupan.

“Face The Fear and DO IT ANYWAY”
Tidak dinafikan bahawa saya sendiri mempunyai perasaan takut untuk melakukan sesuatu. Namun ia tidak bermakna saya tidak bertindak. Konsep ini seringkali diwar-warkan oleh sebuah syarikat sukan terkemuka dunia iaitu Nike. Dimana mereka menggunakan tagline “Just Do It”.
Ketakutan adalah perasaan yang biasa anda hadapi dalam kehidupan seharian. Tetapi apa yang membezakannya bagaimana anda mengawalnya untuk menghasilkan tindakan. Jadi, saya sarankan agar “rasai ketakutan itu dan segera lakukan tindakan”. Biasanya selepas anda bertindak, perasaan takut tersebut akan hilang serta merta.
Dengan kata lain, anda mesti memecahkan dinding ketakutan terlebih dahulu sebelum meneruskan proses tindakan yang seterusnya.

Bina Keyakinan Dengan Membuat Penyelidikan
Selepas bertindak, anda memerlukan sokongan supaya anda berjaya menghadapi proses-proses mencapai matlamat yang seterusnya. Untuk membina keyakinan, lakukan penyelidikan atau mendalami sesuatu itu dengan sebaik-baiknya. Ini bertujuan untuk mengelakkan daripada perasaan ragu-ragu menguasai diri anda.
Perasaan ragu-ragu ini akan wujud setelah anda berjaya menghadapi rasa takut untuk bertindak. Apa yang bahayanya ialah jika anda biarkan perasaan ini terus menguasai diri anda, maka anda berkemungkinan besar akan menyerah kalah lebih awal dan kembali semula ke “zone selesa” anda.
Jadi, pastikan anda terus melakukan persediaan terhadap diri sendiri dengan mendalami ilmu sebanyak yang mungkin. Dengan ini, anda mampu untuk menghapuskan perasaan ragu-ragu.

Ingat Bahawa Kejayaan Adalah Sebuah Proses
Adakalanya punca anda tidak berjaya mencapai matlamat yang diinginkan disebabkan oleh minda anda yang menganggap bahawa memperoleh kejayaan adalah semudah A-B-C. Mempunyai mindset seperti ini mampu melumpuhkan anda dalam mencapai kejayaan pada bila-bila masa kerana anda tidak memahami apakah erti kejayaan yang sebenarnya.
Apabila bercakap mengenai kejayaan, ia adalah sebuah proses yang memerlukan tindakan yang berterusan untuk mencapai sesuatu matlamat yang diingini. Contohnya; Jika anda ingin memperoleh keputusan yang cemerlang dalam SPM, maka anda memerlukan tindakan yang berterusan untuk memahami ilmu-ilmu yang disertakan dalam buku mata pelajaran tersebut supaya ia dapat memudahkan anda untuk menjawab soalan-soalan yang dikemukakann dalam peperiksaan kelak.
Kesimpulannya, kejayaan memerlukan dua elemen iaitu tindakan pertama dan berterusan (proses) bagi mencapai matlamat yang anda inginkan. Semoga anda semua mendapat inspirasi dan motivasi melalui artikel ini. Salam kejayaan.
=============================================
Artikel ini telah ditulis oleh Muhammad Aqif bin Azizan, penulis ebook “Pendedahan Eksklusif: Blog Commenting” dan pemilik blog AqifStrategi.com.
=============================================

Total Pageviews